Giorgio Parisi—pemenang Nobel fisika 2021—dikenal lewat pekerjaannya pada sistem kompleks dan dinamika besar yang serba saling memengaruhi. Ketika ia menerapkan pola pikir ilmiahnya pada ekonomi dunia, yang diotomasi oleh AI, hasilnya bukan hanya grafis produktivitas yang melesat dan pekerjaan yang merosot, melainkan juga pemikiran fundamental tentang apa artinya hidup tanpa pekerjaan.
Dalam skenario masa depan yang ia jelaskan, produktivitas per pekerja bisa meroket ketika mesin dan AI mengambil alih produksi. Namun, hal itu tidak otomatis berarti kemakmuran bersama. Ada kemungkinan nyata bahwa sebuah minoritas kecil yang mengendalikan sistem dan modal akan menguasai hampir semua hasil produktivitas itu. Sementara itu, mayoritas akan memiliki jam bebas yang melimpah, tetapi minim pendapatan, status sosial, dan kekuatan tawar.
Ini adalah titik di mana refleksi Grant dan Parisi berpotongan: ketika martabat manusia yang selama ini dibangun melalui pekerjaan, kontribusi, dan hubungan sosial terusik oleh dominasi teknologi dan sistem ekonomi yang belum dirancang ulang untuk kondisi baru ini. Keduanya sama-sama melihat bahwa yang sedang kita hadapi bukan sekadar perpindahan pekerjaan dari manusia ke mesin, melainkan juga krisis identitas peradaban.
Kritik terhadap Narasi Kemajuan Tanpa Empati
Dimitri Mahayana—melalui tulisannya "Ketika Mesin Mencabut Martabat: Refleksi George Grant tentang GPT dkk "—membawa kita menyelami pemikiran George Grant tentang bagaimana teknologi modern bukan sekadar alat netral, melainkan juga ontologi, sebuah cara berpikir yang membentuk ulang pemahaman kita tentang dunia dan tempat kita di dalamnya.
Grant, dengan tajam, menyebut ini sebagai 'kehendak untuk menguasai' (will to mastery): dorongan mengubah seluruh realitas menjadi objek yang dapat diprediksi, dikendalikan, dan dimanipulasi demi efisiensi maksimal.
AI agentic adalah puncak dari 'kehendak untuk menguasai'—sistem yang mengkolonisasi domain paling manusiawi: bahasa, kreativitas, pengambilan keputusan. Parisi, dengan bahasa fisika, akan mengatakan bahwa sistem telah mencapai titik kritis (critical point) di mana perubahan menjadi tak terhindarkan dan eksponensial.
Dalam tulisan Dimitri, statistik PHK ditunjukkan sebagai bukti kekerasan sistemik teknologi modern. Grant melihat realitas ini sebagai “kekerasan tersembunyi”, yaitu biaya manusia yang dibayar demi efisiensi.
Namun, kritik yang perlu kita perluas: Mengapa selama ini narasi kemajuan teknologi lebih sering tentang apa yang dapat dilakukan teknologi, bukan apa yang harus dilakukan oleh masyarakat?
Mari kita perhatikan apa yang dikatakan Parisi dalam konteks ini. Ia meringkasnya dalam satu kalimat yang menusuk: "Kita harus mengorganisir masyarakat di mana tidak semua orang perlu bekerja, tetapi semua orang dapat hidup dengan bermartabat".
Ini bukan lagi tentang statistik pengangguran—ini tentang bagaimana kita mendefinisikan ulang martabat manusia ketika pekerjaan tidak lagi menjadi tulang punggung identitas kita.
Parisi mengajak kita berpikir bukan hanya secara filosofis atau moral, melainkan juga secara sistemik: Jika mesin mengambil alih pekerjaan, apa yang menggantikan pekerjaan sebagai sumber identitas sosial, jaringan komunitas, dan rasa pencapaian? Siapakah yang mengatur distribusi keuntungan dari peningkatan produktivitas? Apakah pemerintahan, pasar, atau rakyat itu sendiri yang menentukan bentuk baru dari struktur ekonomi?
Jawaban atas pertanyaan ini menentukan apakah kita menuju distopia tanpa pekerjaan atau transisi menuju kehidupan yang lebih manusiawi—jika itu mungkin.
Waktu Luang yang Dipaksakan vs Waktu Luang yang Dipilih
Parisi mengisyaratkan bahwa apa yang sebenarnya kita hadapi adalah redesain identitas. Jika jutaan orang memiliki lebih banyak waktu luang daripada tugas yang bersedia dibayar oleh ekonomi, cerita lama "Anda adalah pekerjaan Anda" berhenti bekerja. Waktu luang hanya terasa seperti kebebasan jika Anda telah belajar apa yang harus dilakukan dengannya sebelum tiba dalam jumlah besar.
Parisi menggarisbawahi bahwa jika AI mencapai efisiensi ekstrem, kita mungkin menghadapi dunia dengan “lebih banyak waktu bebas”, tetapi tidak tahu apa artinya menggunakan waktu itu untuk kehidupan yang bermakna.
Bebas dari pekerjaan belum tentu bebas dari kekosongan eksistensial. Ini menggemakan kekhawatiran Grant: teknologi tidak sekadar mempengaruhi struktur ekonomi, tetapi juga cara kita mendefinisikan manusia itu sendiri.
Di sinilah kritik terhadap optimisme teknologi perlu diperluas. Masalah utama AI bukan sekadar apakah ia “lebih pintar” dari manusia, melainkan juga apakah sistem sosial dan politik kita cukup matang untuk menampung perubahan radikal yang dibawanya.
Tanpa imajinasi baru tentang martabat manusia—di luar kerja, produktivitas, dan efisiensi—teknologi justru akan mempercepat dehumanisasi yang sejak lama diperingatkan oleh Grant.

8 hours ago
2





































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,45,600,0)/kly-media-production/medias/4515254/original/093326000_1690367653-20230724_123556__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4683178/original/070570500_1702364981-father-son-spending-time-together_23-2149150182.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5450728/original/061919500_1766157049-Depositphotos_383351121_L.jpg)