Jakarta (ANTARA) - Mimpi kerap hadir saat seseorang terlelap, menghadirkan beragam cerita yang kadang terasa nyata, membingungkan, atau justru menyenangkan. Meski sering dianggap sekadar bunga tidur, mimpi sebenarnya merupakan bagian penting dari proses kerja otak saat beristirahat.
Melalui mimpi, tubuh dan pikiran memproses pengalaman, emosi, hingga ingatan yang tersimpan sepanjang hari. Lalu, apa sebenarnya mimpi itu dan bagaimana cara mendapatkan tidur yang disertai mimpi indah? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Apa itu mimpi?
Mimpi adalah pengalaman mental yang muncul secara spontan saat seseorang berada dalam fase tidur tertentu. Pengalaman ini dapat berupa gambaran, emosi, pikiran, maupun sensasi yang berlangsung di alam bawah sadar tanpa disadari.
Isi mimpi sangat beragam. Ada yang terasa menyenangkan, membingungkan, bahkan menakutkan, dan tak jarang meninggalkan kesan kuat setelah seseorang terbangun. Mimpi juga bisa bersifat positif maupun negatif, serta mencerminkan pikiran, perasaan, dan pengalaman yang dialami dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut terjadi karena mimpi lebih banyak dipengaruhi oleh pusat emosi di otak, bukan bagian otak yang berperan dalam berpikir logis. Pada dasarnya, mimpi merupakan bagian alami dari proses tidur. Hampir setiap orang mengalami mimpi beberapa kali dalam semalam, meskipun tidak selalu dapat mengingatnya setelah bangun tidur.
Mimpi dapat muncul pada berbagai tahap tidur, tetapi paling sering terjadi pada fase Rapid Eye Movement (REM). Fase ini merupakan tahap tidur terakhir yang ditandai dengan pernapasan yang lebih cepat atau tidak teratur, serta pergerakan mata yang cepat ke berbagai arah.
Seseorang biasanya mulai memasuki fase REM sekitar 90 menit setelah tertidur. Fase ini akan berulang dengan pola waktu yang relatif sama sepanjang malam.
Sejumlah teori menyebutkan bahwa selama tidur REM, aktivitas saraf di otak, termasuk pada amigdala dan hipokampus, memicu rangkaian impuls listrik. Proses inilah yang kemudian menghasilkan potongan gambaran, pikiran, dan ingatan yang muncul secara acak saat seseorang bermimpi.
Mengapa ada mimpi indah dan mimpi buruk?
Hingga saat ini, belum ada jawaban pasti mengenai penyebab munculnya mimpi indah maupun mimpi buruk. Namun, banyak ahli meyakini bahwa jenis mimpi yang dialami berkaitan erat dengan kondisi emosi dan pikiran sebelum tidur.
Mimpi buruk sering kali dipicu oleh pengalaman yang menimbulkan rasa takut, cemas, atau stres. Misalnya, menonton film horor sebelum tidur atau menyaksikan peristiwa menegangkan pada siang hari dapat mempengaruhi isi mimpi di malam hari.
Cara mengurangi risiko mimpi buruk
Untuk menekan kemungkinan munculnya mimpi buruk, beberapa langkah dapat dilakukan, seperti menghindari konsumsi alkohol dan kafein menjelang tidur, menjaga kesehatan mental, serta membiasakan pola tidur yang teratur.
Mimpi buruk sesekali merupakan hal yang wajar. Namun, jika terjadi secara berulang dan mengganggu kualitas tidur, kondisi ini bisa menjadi tanda gangguan tertentu, seperti nightmare disorder.
Gangguan ini dapat menyebabkan seseorang sering terbangun karena ketakutan, sulit tidur kembali, hingga mengalami penurunan konsentrasi dan produktivitas di siang hari.
Orang dengan PTSD atau gangguan kecemasan diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi tersebut, sehingga memerlukan pendampingan dari psikolog atau psikiater.
Baca juga: Tidur berkualitas apakah tidak bermimpi? Ini penjelasannya
Baca juga: Studi: Kurang tidur berkaitan dengan harapan hidup yang lebih pendek
Baca juga: Kebiasaan kurang tidur hingga merokok sebabkan infertilitas
Pewarta: Sean Anggiatheda Sitorus
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.




























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5437257/original/096868200_1765246639-christian_pulisic_milan_vs_torino.jpg)










