Themis: Biaya Pilkada Mahal karena Mahar Politik Tinggi

11 hours ago 2
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

ALASAN efisiensi yang melatarbelakangi beberapa partai mengusulkan pemilihan kepala daerah atau pilkada lewat DPRD dinilai tidak menjawab persoalan mahalnya pelaksanaan pemilihan secara langsung.

Advokat Themis Indonesia, Fadli Ramadhanil, menjelaskan bahwa mahalnya biaya politik untuk pilkada tidak disebabkan oleh pemilihan langsung. Tapi, kata dia, karena dipicu oleh perilaku para kontestan dan partai politik yang kerap melakukan praktik menyimpang. “Maka memberi rumus pemilihan tidak langsung kepala daerah dengan alasan pemborosan anggaran itu jelas salah satu alasan yang dicari-cari,” ujar Fadli dalam konferensi pers virtual bertajuk “Tipu-tipu Pilkada ke DPRD: Kemunduran Demokrasi” pada Minggu, 11 Januari 2026. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Jika dibanding biaya operasional, Fadli menyebutkan, duit dalam kontestasi pilkada justru lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang sebetulnya tidak boleh dilakukan. Di antaranya politik uang, serangan fajar, suap-menyuap, dan pelbagai kecurangan lain. 

Themis Indonesia yakin beban para kontestan dan politikus dalam pelaksanaan pilkada tidak akan seberat hari ini jika dilakukan dengan jujur. Sebab, Fadli menyebutkan ongkos untuk membeli tiket pencalonan justru kerap lebih besar dibanding biaya untuk kampanye. “Saya yakin secara nasional biaya untuk membayar tiket pencalonan akan jauh melampaui anggaran penyelenggaraan pilkada,” katanya. 

Menurut Fadli, apabila benar yang dipersoalkan dalam hal ini adalah biaya, negara semestinya membenahi aspek penegakan hukum terhadap praktik ilegal tersebut, bukan mengganti sistem pilkada. "Upaya membeli tiket pencalonan atau mahar politik itu jelas dilarang. Tapi, karena norma dan penegakan hukumnya lemah, praktik itu terus terjadi.”

Di luar kebutuhan politik, tingginya biaya pilkada juga kerap muncul dari biaya operasional yang sebetulnya tidak relevan dengan pelaksanaan pilkada. Beberapa di antaranya biaya untuk sewa kendaraan dinas, renovasi kantor, dan pengeluaran lain yang tidak berkaitan langsung dengan pelaksanaan pemilihan umum. “Pos-pos seperti ini yang bisa membuat anggaran penyelenggaraan pilkada membengkak,” kata Fadli.

Karena itu, sebelum menyimpulkan pilkada langsung sebagai sumber pemborosan, Fadli berujar, negara semestinya melakukan asesmen anggaran secara transparan dan komprehensif. Ia juga mengingatkan negara agar tidak mengorbankan hak konstitusional warga untuk memilih pemimpinnya secara langsung.

“Jangan sampai yang terjadi adalah perilaku elite politik dan penyelenggara yang membuat biaya membesar, tapi yang dikorbankan justru hak rakyat untuk menentukan kepala daerah,” katanya.

Isu pilkada lewat DPRD menguat menjelang pembahasan revisi Undang-Undang tentang Pemilihan Umum atau UU Pemilu. Sejumlah partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Maju, pendukung Presiden Prabowo Subianto, seperti Gerindra, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Amanat Nasional, menyatakan dukungan terhadap pilkada lewat DPRD. Elite partai-partai itu bahkan disebut bertemu di rumah Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia pada 28 Desember 2025 untuk membahas agenda pilkada melalui DPRD.

Partai NasDem juga menyatakan dukungan, disusul Partai Demokrat yang menyebutkan akan mengikuti keputusan Presiden Prabowo. Sikap Demokrat ini berubah dari 2014, ketika presiden saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono, menolak pilkada tidak langsung dan mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang.

Adapun Partai Keadilan Sejahtera masih menyatakan bersikap hati-hati dan akan menentukan posisi resmi dalam pembahasan revisi UU Pemilu di DPR. Hingga kini, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menjadi satu-satunya partai di parlemen yang secara terbuka menolak pilkada melalui DPRD.

Ervana Trikanaputri berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Read Entire Article