70 Anak Gabung dalam Grup Kekerasan True Crime Community, Psikolog: Rangkul dan Telusuri Motifnya

3 days ago 6
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Liputan6.com, Jakarta - Belakangan orangtua dibuat khawatir dengan temuan polisi tentang 70 anak yang tergabung dalam grup True Crime Community (TCC). Grup ini berisi konten kekerasan dan perencanaan merusak sekolah, melukai guru, dan teman kelas.

Lantas, mengapa anak-anak memiliki pikiran untuk melakukan tindak kekerasan terencana? Menurut psikolog klinis dari Fakultas Psikologi Universitas YARSI, Ratih Arruum Listiyandini, berbagai motif perlu dilihat terlebih dahulu.

"Memang kita perlu untuk lihat dulu motif mereka apa. Ada banyak isu juga di kalangan remaja yang perlu kita perhatikan. Apakah mungkin kehadiran orangtua yang minim, pola pengasuhan, faktor lingkungan, tekanan sosial, pertemanan yang memengaruhi mereka," kata Ratih kepada Health Liputan6.com saat ditemui di Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).

Dia menambahkan, isu kesehatan mental pada remaja memang butuh perhatian karena ini adalah tahap atau fase awal menuju dewasa. Sementara, untuk intervensinya, menurut Ratih ini kembali lagi pada lingkungan sosial yang suportif atau penuh dukungan.

“Jadi, kita perlu merangkul dulu dalam proses ini untuk melihat apa sih sebenarnya yang mereka cari. Kalau kita sudah tahu maka kita akan bisa lebih mencari akar masalahnya dan nantinya bisa memberikan intervensi yang lebih tepat,” ucapnya.

Intervensi ini bisa diberikan di level sekolah, komunitas, atau lewat edukasi-edukasi di sosial media dan sebagainya.

Anggota True Crime Community Tersebar di 19 Provinsi

Sebelumnya, sebanyak 70 anak yang tergabung dalam grup True Crime Community yang mengandung konten kekerasan. Juru Bicara Densus 88 Komisaris Besar Polisi Mayndra Eka Wardhana mengatakan puluhan anak tersebut tersebar di 19 provinsi.

"Di mana provinsi yang terbanyak, yaitu DKI Jakarta ada 15 orang, kemudian Jawa Barat 12 orang, dan Jawa Timur 11 orang. Setelah itu menyebar di beberapa daerah," kata Mayndra dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (7/1/2026) mengutip News Liputan6.com.

Untuk sebaran usia, anak-anak tersebut berusia rentang dari 11 tahun sampai 18 tahun. "Didominasi oleh umur 15 tahun. Jadi, transisi antara SMP ke SMA," ucapnya.

Dari 70 anak tersebut, kata dia, sebanyak 67 anak telah dilakukan intervensi melalui asesmen, pemetaan, konseling, dan upaya lainnya oleh Densus 88 yang dengan bekerja sama dengan para pemangku kepentingan.

Rata-Rata Anak adalah Korban Perundungan

Dari hasil asesmen dan pemetaan diidentifikasi bahwa terdapat latar belakang yang memicu anak-anak bergabung dengan komunitas ini.

Pertama adalah terjadinya perundungan. Ia mengatakan bahwa rata-rata anak tersebut menjadi korban perundungan di sekolah ataupun di lingkungan masyarakat.

Berikutnya adalah kondisi broken home. Anak-anak tersebut memiliki orang tua yang cerai, meninggal dunia, kurang perhatian, keluarga tidak harmonis, trauma di dalam keluarga, dan kerap menyaksikan kekerasan di rumah.

"Di sini (grup True Crime Community), mereka merasa memiliki rumah kedua karena di dalam komunitas ini, aspirasi mereka bisa didengarkan oleh rekan-rekannya, bisa terjadi interaksi, dialog, dan saling memberikan masukan untuk menyelesaikan solusinya masing-masing, tentunya dengan kekerasan-kekerasan tersebut," kata Mayndra.

Selanjutnya adalah pemberian akses gawai yang berlebihan kepada anak. Ia mengatakan, dari data yang ditemukan oleh penyelidik di lapangan, rata-rata anak terlalu sering menggunakan gadget. Pemicu terakhir adalah terpapar konten kekerasan dan video-video pornografi serta perilaku menyimpang lainnya.

Read Entire Article